RASA, WARNA,
CINTA
![]() |
| Love is Life you Live. And Life is the Love you Live |
Kepercayaan
yang telah hilang tak mungkin mudah dikembalikan. Raganya letih, Hati yang
terlalu banyak menerima goresan. Matanya tak melihat warna pelangi. Rasa yang
dulu seperti gula kini menjadi hambar tanpa sebab. Cinta yang selalu menghiasi
mata, telinga, dan hati kini hilang.
Kehilangan
orang yang dia sayangi, percayai, menghancurkan semua itu. Meski terlalu dini
memikirkan yang namanya Cinta tapi terlalu lambat jika harus mengenal cinta di
hari dewasa.
“Nana..”
Suara sendu memanggil namanya. Nana buru-buru menghapus air mata yang sedari
tadi menghiasi pipinya. Kemudian ia menoleh kearah dua sahabatnya. Karin dan
Vaya. Melihat Nana rapuh membuat kedua sahabatnya ikut bersedih, ini tak
seperti Nana, dia selalu tampil ceria bahkan ia yang selalu menghibur
orang-orang yang bersedih. Tapi apa daya kini benteng pertahanannya telah
rapuh.
“Lo
ga harus sedih karna Rian, Na” bujuk Karin.
“Kita
masih muda masih bisa milih yang lebih bahkan jauh lebih baik Na” Vaya juga
turut membujuk Nana.
“Lo
berdua tau ?, saat sepasang kekasih udah membangun hubungan, dan salah satunya
ngehancurin gitu aja, bisa ga sih bayangin sedihnya ?” Suara Nana terdengar
parau.
“Tapi
Na..” Belum sempat melanjutkan kalimatnya, omongan vaya dipotong oleh Nana.
“Selama
2 tahun gue ngebangun hubungan sama dia, dan gue udah nganggep itu semua lebih
dari sekedar kata “pacaran”, Tapi dia malah ninggalin gue gitu aja vay” Isak
tangis tak bisa dibendung Nana lagi. Air mata terus mengalir.Kedua sahabatnya
memeluk Nana dengan erat. Tak tega rasanya melihat Nana.
“Udahlah
Na ga usah nangis. Karna Dunia Ga Harus Tentang Cinta” Kata kedua sahabatnya.
Mereka berpelukan dengan erat seperti benteng yang menjaga satu sama lain. Tak
perlu seorang kekasih, hati mereka yang menjadi satu sudah seperti pelangi yang
saling melengkapi.
* * *
Hari
ini Nana sebenarnya malas untuk pergi ke sekolah apalagi setelah “Insiden” yang
menimpanya. Nana memandang langit-langit kamarnya. Mengingat memori yang penuh
kenangan bersama Rian. Tak mudah untuk dia lupakan tapi terlalu mudah menggores
hatinya. Nana menggelengkan kepala, dia tak ingin memori itu menghancurkan
semuanya. Dia tak peduli lagi dengan cinta. Mungkin.
BMW
Nana memasuki gerbang CHS “Chasterlie High School” Sekolah bergengsi yang cukup
terkenal di Bandung. Sekolah dengan kualitas-kuantitas yang tinggi itu
Saat
membuka pintu mobilnya, belum sempat keluar Nana melihat Rian memarkir mobilnya
tak jauh dari Nana. Ia terkejut melihat mantan kekasihnya itu. Bagaimana tidak
? Rian sama sekali tak merasakan kesedihan seperti yang dirasakan Nana. Ia
terlihat bahagia, seakan-akan tak ada hal yang terjadi. Rasa benci, marah,
kecewa, sedih membalut hati dan pikiran Nana. Seperti ingin berlari kearah rian
dan menamparnya sekuat tenaga. Nana menarik nafas lalu pergi. Lebih baik dia
tidak menghiraukannya lagi.
Tidak
sedikit pun terlintas di pikiran Nana tentang sekolah. Jika di izinkan mungkin
dia akan pulang sekarang juga.
Bel
berbunyi tanda pelajaran dimulai. Di kelas Nana dihebohkan dengan murid baru tampan
yang pindah dari sekolah khusus laki-laki di Jerman. Semua murid perempuan
dikelas Nana sibuk mempercantik diri. Kecuali Nana, yang terus berdiam dan
menyebarkan pandangannya kearah lapangan “like nothing happened”.
Bu
Maya melangkah masuk kedalam kelas semua perempuan memperlihatkan sikap anggun,
manis, lugu bak seorang putri raja. Memang murid baru itu sangat tampan. Tapi
ketampanannya itu tak mampu memikat mata Nana sedetik pun. Pikiran Nana diikat
memori yang dulu dia rekam bersama Rian di sekolah.
“Nana”
lamunan Nana mebuyar seketika. Bu Maya memintanya untuk memperhatikan murid
baru tersebut memperkenalkan diri. Perhatian Nana tak terikat memori itu lagi.
Sekarang dia memperhatikan murid baru yang dikagum – kagumi itu.
“Perkenalkan
nama saya Nathaniel Fedrick Raharja, pindahan dari Jerman” Perkenalan singkat,
tapi berhasil memikat semua hati perempuan dikelas Nana.
Bu
Maya meminta Nathan untuk duduk dibelakang Nana. Bangku itu milik teman Nana
yang sudah pindah. Ketika Nathan berjalan melintasi bangku Nana dia melihat
mata sembab. Mata yang sepertinya di hiasi kesedihan mendalam. Mata yang
terlalu indah untuk dihiasi air mata.
“Hai
kenalin, gue Nathan, lo ?” Sapa Nathan membuka pembicaraan.
“Averina
Camelia Putri, lo bisa panggil gue Nana” Jawab Nana dengan sedikit senyum yang
tersisa di wajahnya.
“Dari
nama lo…” Nathan belum sempat menyelesaikan kalimatnya Nana sudah
memotongnya. Seakan-akan dia tau apa yang akan Nathan katakan.
“Gue
blesteran, Bokap gue dari Jerman, Nyokap dari Indo, gue besar di Indo tapi
sesekali ke-Jerman.” Nana menghentikan kalimatnya. Mengapa dia harus
menceritakan seluk beluk kehidupannya kepada murid baru ?
Nathan
tersenyum geli melihat ekspresi Nana yang menghentikan kalimatnya. “Loh kenapa
berhenti ? lanjut aja kali. Lo takut gue orang asing yang punya niat jahat gitu
?” Jelas Nathan sambil tertawa geli.
“Iiih
bukan gitu kali” Jawab Nana.
“Kali
aja Bokap gue sama lo kenalan” Nathan masih tertawa kecil. Merayu Nana. Senyum
tipis tercetak diwajah Nana. Untuk sesaat dia dapat melupakan kesedihan yang
dialaminya.
“Oh
iya, Btw Salam kenal ya” Nathan tersenyum mengulurkan tangannya. Tanda
pertemanan kepada Nana. Mereka saling berjabat tangan tanda pertemanan telah
dibuat.
Bel
istirahat berbunyi Nana bergegas menuju ke kantin menjumpai kedua sahabatnaya.
Nathan baru saja ingin mengajak Nana ke kantin sekolah bersama, tapi Nana sudah
jauh keluar kelas. Nathan memilih untuk menemui Nana nanti saja.
Karin
dan Vaya sudah menunggu di kantin. Mereka bahkan sudah memesan menu favorit Nana.
Mereka mulai berbincang bincang tentang murid baru dikelas Nana. Rupanya Nathan
cukup terkenal di sekolah. Nathan baik, ramah, friendly, dan asik. Nana
menjawab pertanyaan dua sahabatnya seadanya. Di tengah pembicaraan Nathan
datang dan duduk di sebelah Nana.
“Hai,
Lo berdua temennya Nana kan ? Kenalin gue Nathan murid baru. Salam kenal ya”
Tanpa basa basi Nathan memperkenalkan diri dan mengumbar senyum manisnya yang
menawan itu. Karin dan Vaya juga memperkenalkan diri mereka, tak butuh waktu
lama, Nathan sudah bisa berteman dengan mereka bertiga. Senyum Nathan memberi
kesan positif bagi Nana dan kawan-kawannya. Karin dan Vaya berharap Nathan bisa
membawa Nana untuk melupakan Rian. Mereka tidak ingin Nana larut dalam memori
yang hanya mengikatnya dalam kesedihan. Mengingat
masa lalu hanyalah membuang waktu yang berguna untuk masa depan. Namun
keterpurukannya akan kenangan pahit seakan menjatuhkannya kedalam lubang hidup
yang gelap.
Seperti
benteng hidup yang dihancurkan hanya dengan serentetan huruf yang seperti
pedang. Luka yang tergores di hatinya tak mudah ditutupi. Bahkan itu bisa mengubah sifatnya, dan hidupnya.
Sesekali Nana ingin menjadi air. Karna air sejauh apapun dia mengalir sekeras
apapun dia menghantam batu, air tak akan pernah menghentikan alirannya untuk
menghidupi semua orang. Namun rasa sedihnya tak bisa menghentikan dirinya. Masa
depan yang masih menantikan kehadirannya nanti. Terlalu konyol jika dia harus
terus terlarut dalam kesedihan. Karna hidup tak semudah menatap lagit.
“Lo
kenapa na ?” Tanya Nathan yang sedari tadi melihat Nana hanya termenung.
Sebenarnya dia sudah penasaran sejak di kelas melihat mata Nana yang sembab.
“Biasa.
Habis putus cinta” Sahut Vaya. Tak sengaja. Nana hanya diam.
“Cuman
gara-gara itu lo sedih sampe muka lo sembab gitu ?” Nathan tertawa, mendengar
alasan Nana bersedih. Dalam sekejap Nana pergi meninggalkan mereka bertiga.
Nana tidak suka ditertawakan karena luka hatinya yang tergores. Bukan itu yang
dia butuhkan saat ini. Bukan candaan, bukan tawaan yang dia butuhkan. Melainkan
pelukan hangat yang membantu ia terlepas dari memori yang selama ini memeluk
dan menusuknya secara perlahan. Seperti tak ada yang peduli dengan kesedihan
yang dialaminya. Nathan hanya ingin menghibur Nana. Hanya sebatas itu. Ia tak
berniat sedikit pun melukai hati Nana. Hanya saja ia tak tau bagaimana perasaan
perempuan karena ia bersekolah khusus laki-laku sejak dulu. Nathan tak banyak
mengerti tentang wanita. Yang dia tahu hanya dia sangat menyayangi Ibunya.
Nana
masih tidak mau berbicara kepada Nathan. Bukan karena tawaannya melainkan ia
hanya ingin sendiri. Tanpa suara. Di sisi lain Nathan bingung akan sikap Nana.
Baru kemarin ia berjabat tangan berdua dan sekarang mereka seperti dua orang
asing yang tak saling kenal. Dia juga merasa tak enak kepada Nana karna Nana
teman pertamanya. Nathan tak ingin memberikan kesan buruk kepada Nana. Pergi
mencari solusi pada dua sahabat Nana. Hanya itulah jalan yang Nathan pikirkan.
Sudah
pukul 02.00 siang. Tanpa ada sepatah kata pun yang terucap diantara mereka.
Saling diam. Tanpa menunggu Nathan langsung mencari Karin dan Vaya. Dia tak
ingin berlama-lama bermusuhan dengan Nana.
“Karin,
Vaya” Suara Nathan menggema di koridor sekolah. Sembari berlari menuju mereka.
“Lo
kenapa tan ?” Sahut vaya.
“Gue
mau ngomong tentang Nana” Karin dan Vaya mengerti apa yang ingin dikatakannya.
Kantin sudah sepi hanya tinggal mereka bertiga dan beberapa anak lainnya saja.
“Gini
gue takut benget sama sikap Nana” Nathan membuka pembicaraan.
“Gue
belum pernah temenan sama cewek sejak kecil, gue pindahan dari sekolah khusus
laki-laki di Jerman. Gue ga tahu gimana caranya temenan sama cewek apalagi
setelah sikap Nana ke gue.” Lanjut
Nathan lantang.
Karin
dan Vaya saling menoleh dan tersenyum geli mendengar celotehan Nathan.
“Tan,
Kalo Nana lagi pengen sendiri dia emang gitu. Ga cuman lo. Guru pun bakal
didiemin sama dia.” Jawab Karin.
“Tapi
kenapa setelah gue ketawa karna dia putus, dia malah diemin gue ?”
“Gapapa
kali. Dia cuman pingin sendiri dulu. So don’t be afraid” Jawab Vaya.
Karin
dan Vaya meninggalkan Nathan yang masih nampak ragu dengan jawaban mereka. Apa
yang harus dia lakukan ?.
Nathan
belum pernah mengalami masalah bersama perempuan sebelumnya.
Ia bahkan tak tahu rasanya putus cinta. Tak ada yang
mengetahuinya. Tapi Nathan belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Nathan hanya
mempunyai satu wanita. Ibunya. Nathan sangat menyayangi ibunya. Baginya Ibu
adalah sosok yang paling berharga dalam hidupnya. Meskipun kini mereka tinggal
berpisah, namun hati ibu dan anak tersebut tetap melekat. Tapi saat ini Nathan
sangat membutuhkan sosok ibu untuknya. Rindu. Itulah yang dirasakannya saat ini
untuk ibunya. Hanya kedua orang tuanya saja yang menjadi sandarannya selama
ini.
Matahari
menyirami rerumputan dengan limpahan sinarnya. Pagi yang cerah untuk memulai hal yang baru.
Seperti langit yang tak lagi menampakan kesedihannya. Nana pun tak ingin
dikalahkan langit. Dia ingin lebih terang dari langit. Tak ada lagi kata sedih
tak ada lagi kata cinta. Baginya cinta sama dengan nol. Tak peduli seberapapun
nol yang berderet, nol tetaplah nol. Pikirannya hanya tertuju pada masa
depannya. Memulai sesuatu yang baru tidaklah terlalu buruk. Nana juga merasa
bersalah kepada Nathan.
“Gue
harus minta maaf sama Nathan.” Gumam Nana.
Pagi
yang sama dengan suasana yang sama. Namun pagi Nathan tak secerah pagi Nana.
Dia masih menghawatirkan sikap acuh Nana sejak tempo hari lalu.
Nathan
tak ingin terus seperti ini.
“Gue
bakal minta maaf sama Nana.” Batin Nathan. Tanpa mereka sadari mereka saling
menyalahkan diri sendiri.
Nathan
memarkir mobilnya. Saat ia memasuki kelas, ia sudah melihat Nana duduk disana.
Seperti biasa penampilan Nana yang sederhana, dan menawan selalu menjadi cirri
khasnya.
Nathan
seperti biasa melangkah dan duduk dibangkunya. Masih saling diam. Keduanya
Nampak membisu dan tak berani memulai pembicaraan. Nathan terdiam dan menarik
nafasnya. Begitu juga Nana melakukan hal yang sama.
“Hei..”
Suara mereka terpadu. Tak disangka mereka saling sapa. Mereka menatap satu sama
lain. Beribu kata terucap hanya dengan tatapan. Mata yang saling bercakap namun
dua bibir yang tak saling berucap. Mungkinkah mereka saling memaafkan ?
TO BE CONTINUE……







0 komentar:
Posting Komentar