Different Taste In One Bowl

Minggu, 04 September 2016

Love Story -

RASA, WARNA, CINTA

Love is Life you Live. And Life is the Love you Live


Kepercayaan yang telah hilang tak mungkin mudah dikembalikan. Raganya letih, Hati yang terlalu banyak menerima goresan. Matanya tak melihat warna pelangi. Rasa yang dulu seperti gula kini menjadi hambar tanpa sebab. Cinta yang selalu menghiasi mata, telinga, dan hati kini hilang.

Kehilangan orang yang dia sayangi, percayai, menghancurkan semua itu. Meski terlalu dini memikirkan yang namanya Cinta tapi terlalu lambat jika harus mengenal cinta di hari dewasa.

“Nana..” Suara sendu memanggil namanya. Nana buru-buru menghapus air mata yang sedari tadi menghiasi pipinya. Kemudian ia menoleh kearah dua sahabatnya. Karin dan Vaya. Melihat Nana rapuh membuat kedua sahabatnya ikut bersedih, ini tak seperti Nana, dia selalu tampil ceria bahkan ia yang selalu menghibur orang-orang yang bersedih. Tapi apa daya kini benteng pertahanannya telah rapuh.
“Lo ga harus sedih karna Rian, Na” bujuk Karin.
“Kita masih muda masih bisa milih yang lebih bahkan jauh lebih baik Na” Vaya juga turut membujuk Nana.
“Lo berdua tau ?, saat sepasang kekasih udah membangun hubungan, dan salah satunya ngehancurin gitu aja, bisa ga sih bayangin sedihnya ?” Suara Nana terdengar parau.
“Tapi Na..” Belum sempat melanjutkan kalimatnya, omongan vaya dipotong oleh Nana.
“Selama 2 tahun gue ngebangun hubungan sama dia, dan gue udah nganggep itu semua lebih dari sekedar kata “pacaran”, Tapi dia malah ninggalin gue gitu aja vay” Isak tangis tak bisa dibendung Nana lagi. Air mata terus mengalir.Kedua sahabatnya memeluk Nana dengan erat. Tak tega rasanya melihat Nana.
“Udahlah Na ga usah nangis. Karna Dunia Ga Harus Tentang Cinta” Kata kedua sahabatnya. Mereka berpelukan dengan erat seperti benteng yang menjaga satu sama lain. Tak perlu seorang kekasih, hati mereka yang menjadi satu sudah seperti pelangi yang saling melengkapi.
* * *
Hari ini Nana sebenarnya malas untuk pergi ke sekolah apalagi setelah “Insiden” yang menimpanya. Nana memandang langit-langit kamarnya. Mengingat memori yang penuh kenangan bersama Rian. Tak mudah untuk dia lupakan tapi terlalu mudah menggores hatinya. Nana menggelengkan kepala, dia tak ingin memori itu menghancurkan semuanya. Dia tak peduli lagi dengan cinta. Mungkin.

BMW Nana memasuki gerbang CHS “Chasterlie High School” Sekolah bergengsi yang cukup terkenal di Bandung. Sekolah dengan kualitas-kuantitas yang tinggi itu

Saat membuka pintu mobilnya, belum sempat keluar Nana melihat Rian memarkir mobilnya tak jauh dari Nana. Ia terkejut melihat mantan kekasihnya itu. Bagaimana tidak ? Rian sama sekali tak merasakan kesedihan seperti yang dirasakan Nana. Ia terlihat bahagia, seakan-akan tak ada hal yang terjadi. Rasa benci, marah, kecewa, sedih membalut hati dan pikiran Nana. Seperti ingin berlari kearah rian dan menamparnya sekuat tenaga. Nana menarik nafas lalu pergi. Lebih baik dia tidak menghiraukannya lagi.

Tidak sedikit pun terlintas di pikiran Nana tentang sekolah. Jika di izinkan mungkin dia akan pulang sekarang juga.

Bel berbunyi tanda pelajaran dimulai. Di kelas Nana dihebohkan dengan murid baru tampan yang pindah dari sekolah khusus laki-laki di Jerman. Semua murid perempuan dikelas Nana sibuk mempercantik diri. Kecuali Nana, yang terus berdiam dan menyebarkan pandangannya kearah lapangan “like nothing happened”.

Bu Maya melangkah masuk kedalam kelas semua perempuan memperlihatkan sikap anggun, manis, lugu bak seorang putri raja. Memang murid baru itu sangat tampan. Tapi ketampanannya itu tak mampu memikat mata Nana sedetik pun. Pikiran Nana diikat memori yang dulu dia rekam bersama Rian di sekolah.

“Nana” lamunan Nana mebuyar seketika. Bu Maya memintanya untuk memperhatikan murid baru tersebut memperkenalkan diri. Perhatian Nana tak terikat memori itu lagi. Sekarang dia memperhatikan murid baru yang dikagum – kagumi itu.

“Perkenalkan nama saya Nathaniel Fedrick Raharja, pindahan dari Jerman” Perkenalan singkat, tapi berhasil memikat semua hati perempuan dikelas Nana.

Bu Maya meminta Nathan untuk duduk dibelakang Nana. Bangku itu milik teman Nana yang sudah pindah. Ketika Nathan berjalan melintasi bangku Nana dia melihat mata sembab. Mata yang sepertinya di hiasi kesedihan mendalam. Mata yang terlalu indah untuk dihiasi air mata.

“Hai kenalin, gue Nathan, lo ?” Sapa Nathan membuka pembicaraan.
“Averina Camelia Putri, lo bisa panggil gue Nana” Jawab Nana dengan sedikit senyum yang tersisa di wajahnya.

“Dari nama lo…” Nathan belum sempat  menyelesaikan kalimatnya Nana sudah memotongnya. Seakan-akan dia tau apa yang akan Nathan katakan.

“Gue blesteran, Bokap gue dari Jerman, Nyokap dari Indo, gue besar di Indo tapi sesekali ke-Jerman.” Nana menghentikan kalimatnya. Mengapa dia harus menceritakan seluk beluk kehidupannya kepada murid baru ?

Nathan tersenyum geli melihat ekspresi Nana yang menghentikan kalimatnya. “Loh kenapa berhenti ? lanjut aja kali. Lo takut gue orang asing yang punya niat jahat gitu ?” Jelas Nathan sambil tertawa geli.

“Iiih bukan gitu kali” Jawab Nana.

“Kali aja Bokap gue sama lo kenalan” Nathan masih tertawa kecil. Merayu Nana. Senyum tipis tercetak diwajah Nana. Untuk sesaat dia dapat melupakan kesedihan yang dialaminya.

“Oh iya, Btw Salam kenal ya” Nathan tersenyum mengulurkan tangannya. Tanda pertemanan kepada Nana. Mereka saling berjabat tangan tanda pertemanan telah dibuat.

Bel istirahat berbunyi Nana bergegas menuju ke kantin menjumpai kedua sahabatnaya. Nathan baru saja ingin mengajak Nana ke kantin sekolah bersama, tapi Nana sudah jauh keluar kelas. Nathan memilih untuk menemui Nana nanti saja.

Karin dan Vaya sudah menunggu di kantin. Mereka bahkan sudah memesan menu favorit Nana. Mereka mulai berbincang bincang tentang murid baru dikelas Nana. Rupanya Nathan cukup terkenal di sekolah. Nathan baik, ramah, friendly, dan asik. Nana menjawab pertanyaan dua sahabatnya seadanya. Di tengah pembicaraan Nathan datang dan duduk di sebelah Nana.

“Hai, Lo berdua temennya Nana kan ? Kenalin gue Nathan murid baru. Salam kenal ya” Tanpa basa basi Nathan memperkenalkan diri dan mengumbar senyum manisnya yang menawan itu. Karin dan Vaya juga memperkenalkan diri mereka, tak butuh waktu lama, Nathan sudah bisa berteman dengan mereka bertiga. Senyum Nathan memberi kesan positif bagi Nana dan kawan-kawannya. Karin dan Vaya berharap Nathan bisa membawa Nana untuk melupakan Rian. Mereka tidak ingin Nana larut dalam memori yang hanya mengikatnya dalam kesedihan.  Mengingat masa lalu hanyalah membuang waktu yang berguna untuk masa depan. Namun keterpurukannya akan kenangan pahit seakan menjatuhkannya kedalam lubang hidup yang gelap.
Seperti benteng hidup yang dihancurkan hanya dengan serentetan huruf yang seperti pedang. Luka yang tergores di hatinya tak mudah ditutupi. Bahkan  itu bisa mengubah sifatnya, dan hidupnya. Sesekali Nana ingin menjadi air. Karna air sejauh apapun dia mengalir sekeras apapun dia menghantam batu, air tak akan pernah menghentikan alirannya untuk menghidupi semua orang. Namun rasa sedihnya tak bisa menghentikan dirinya. Masa depan yang masih menantikan kehadirannya nanti. Terlalu konyol jika dia harus terus terlarut dalam kesedihan. Karna hidup tak semudah menatap lagit.

“Lo kenapa na ?” Tanya Nathan yang sedari tadi melihat Nana hanya termenung. Sebenarnya dia sudah penasaran sejak di kelas melihat mata Nana yang sembab.
“Biasa. Habis putus cinta” Sahut Vaya. Tak sengaja. Nana hanya diam.

“Cuman gara-gara itu lo sedih sampe muka lo sembab gitu ?” Nathan tertawa, mendengar alasan Nana bersedih. Dalam sekejap Nana pergi meninggalkan mereka bertiga. Nana tidak suka ditertawakan karena luka hatinya yang tergores. Bukan itu yang dia butuhkan saat ini. Bukan candaan, bukan tawaan yang dia butuhkan. Melainkan pelukan hangat yang membantu ia terlepas dari memori yang selama ini memeluk dan menusuknya secara perlahan. Seperti tak ada yang peduli dengan kesedihan yang dialaminya. Nathan hanya ingin menghibur Nana. Hanya sebatas itu. Ia tak berniat sedikit pun melukai hati Nana. Hanya saja ia tak tau bagaimana perasaan perempuan karena ia bersekolah khusus laki-laku sejak dulu. Nathan tak banyak mengerti tentang wanita. Yang dia tahu hanya dia sangat menyayangi Ibunya.



Nana masih tidak mau berbicara kepada Nathan. Bukan karena tawaannya melainkan ia hanya ingin sendiri. Tanpa suara. Di sisi lain Nathan bingung akan sikap Nana. Baru kemarin ia berjabat tangan berdua dan sekarang mereka seperti dua orang asing yang tak saling kenal. Dia juga merasa tak enak kepada Nana karna Nana teman pertamanya. Nathan tak ingin memberikan kesan buruk kepada Nana. Pergi mencari solusi pada dua sahabat Nana. Hanya itulah jalan yang Nathan pikirkan.

Sudah pukul 02.00 siang. Tanpa ada sepatah kata pun yang terucap diantara mereka. Saling diam. Tanpa menunggu Nathan langsung mencari Karin dan Vaya. Dia tak ingin berlama-lama bermusuhan dengan Nana.
“Karin, Vaya” Suara Nathan menggema di koridor sekolah. Sembari berlari menuju mereka.
“Lo kenapa tan ?”  Sahut vaya.
“Gue mau ngomong tentang Nana” Karin dan Vaya mengerti apa yang ingin dikatakannya. Kantin sudah sepi hanya tinggal mereka bertiga dan beberapa anak lainnya saja.
“Gini gue takut benget sama sikap Nana” Nathan membuka pembicaraan.
“Gue belum pernah temenan sama cewek sejak kecil, gue pindahan dari sekolah khusus laki-laki di Jerman. Gue ga tahu gimana caranya temenan sama cewek apalagi setelah  sikap Nana ke gue.” Lanjut Nathan lantang.

Karin dan Vaya saling menoleh dan tersenyum geli mendengar celotehan Nathan.
“Tan, Kalo Nana lagi pengen sendiri dia emang gitu. Ga cuman lo. Guru pun bakal didiemin sama dia.” Jawab Karin.

“Tapi kenapa setelah gue ketawa karna dia putus, dia malah diemin gue ?”
“Gapapa kali. Dia cuman pingin sendiri dulu. So don’t be afraid” Jawab Vaya.
Karin dan Vaya meninggalkan Nathan yang masih nampak ragu dengan jawaban mereka. Apa yang harus dia lakukan ?.

Nathan belum pernah mengalami masalah bersama perempuan sebelumnya.
Ia bahkan tak tahu rasanya putus cinta. Tak ada yang mengetahuinya. Tapi Nathan belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Nathan hanya mempunyai satu wanita. Ibunya. Nathan sangat menyayangi ibunya. Baginya Ibu adalah sosok yang paling berharga dalam hidupnya. Meskipun kini mereka tinggal berpisah, namun hati ibu dan anak tersebut tetap melekat. Tapi saat ini Nathan sangat membutuhkan sosok ibu untuknya. Rindu. Itulah yang dirasakannya saat ini untuk ibunya. Hanya kedua orang tuanya saja yang menjadi sandarannya selama ini. 

Matahari menyirami rerumputan dengan limpahan sinarnya. Pagi  yang cerah untuk memulai hal yang baru. Seperti langit yang tak lagi menampakan kesedihannya. Nana pun tak ingin dikalahkan langit. Dia ingin lebih terang dari langit. Tak ada lagi kata sedih tak ada lagi kata cinta. Baginya cinta sama dengan nol. Tak peduli seberapapun nol yang berderet, nol tetaplah nol. Pikirannya hanya tertuju pada masa depannya. Memulai sesuatu yang baru tidaklah terlalu buruk. Nana juga merasa bersalah kepada Nathan.
“Gue harus minta maaf sama Nathan.” Gumam Nana.

Pagi yang sama dengan suasana yang sama. Namun pagi Nathan tak secerah pagi Nana. Dia masih menghawatirkan sikap acuh Nana sejak tempo hari lalu.
Nathan tak ingin terus seperti ini.
“Gue bakal minta maaf sama Nana.” Batin Nathan. Tanpa mereka sadari mereka saling menyalahkan diri sendiri.

Nathan memarkir mobilnya. Saat ia memasuki kelas, ia sudah melihat Nana duduk disana. Seperti biasa penampilan Nana yang sederhana, dan menawan selalu menjadi cirri khasnya.
Nathan seperti biasa melangkah dan duduk dibangkunya. Masih saling diam. Keduanya Nampak membisu dan tak berani memulai pembicaraan. Nathan terdiam dan menarik nafasnya. Begitu juga Nana melakukan hal yang sama.

“Hei..” Suara mereka terpadu. Tak disangka mereka saling sapa. Mereka menatap satu sama lain. Beribu kata terucap hanya dengan tatapan. Mata yang saling bercakap namun dua bibir yang tak saling berucap. Mungkinkah mereka saling memaafkan ?



                                                                             TO BE CONTINUE……
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

About Our School

SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar, yup that's my school! yaa, mungkin kalian sedikit asing dengan nama sekolah ini. tapi, sekolah ini luar biasa banget, salah satunya kalian bakal ketemu cowok dengan jumlah yang hampir punah. bisa di bayangin gimana jomblonya kaum wanita disana. disini guru-gurunya yaa sama kaya sekolah kalian ada yang asik, ada yang garing, ada yang kayak dia, ada ada aja.. nah, tiap bulan September kita ngadain PORSESA (Pekan Olahraga Seni dan Sains) yang paling ditunggu-tunggu sama anak satu sekolah, jadi apapun bakat yang lo punya lo bisa tunjukin disana.. Sekolah kita itu banyak rasanya, Rasa Solidaritas, Rasa Takut, Rasa Seneng, Rasa Kecewa, Rasa-rasa yang pernah ada. tau ga kenapa gak ada rasa manis, karna yang manis cuma kamuuuu.

About Us

WATCH OUT!!! Haii everyone, kami dari Avicenna angkatan 47 tepatnya kelas 11.1 SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar yang rata-rata isinya pada jomblo semua, dan kami memiliki 1 herbivora yang sangat ganas kalo lagi laper. dan wali kelas kami bernama Bu Hery Tonik yang penambah wawasan juga pemberi amanah setiap pukul 07.00 WITA (waktu indonesia terserah anda) dan kelas kami ini penuh muzizat banget men!